Telat Jual Ikan, Seorang Pelajar di Ternate Dianiaya se Keluarga

Ilustrasi kekerasan terhadap anak

TIVATIMUR.COM,TERNATE- Seorang pelajar berinisial AP dianiaya kedua orang tua dan kakak kandungnya. Perempuan yang berusia 15 tahun, siswa salah satu SMP di Kota Ternate ini mendapatkan tindakan kekerasan dari kedua orang tua dan kakaknya, hanya lantaran terlambat menjual ikan.

“Saya dipukuli mama, papa dan kakak karena persoalan jualan ikan fufu (asap) tidak tepat pada waktu yang ditentukan,” ungkap korban pada tivatimur.com (NMG), Kamis (18/11/2021).

Korban menceritakan, Sabtu pekan kermarin, sekira pukul 07.00 WIT, dirinya dihubungi ibunya, Yanti Prawiro untuk menjual ikan. Namun saat itu karena dirinya terlambat bangun sehingga meminta waktu kepada ibunya untuk korban membersihkan wajah.

“Sabtu pagi jam 07.00 WIT, mama telpon suru bajual ikan. Saya langsung bilang di mama karena so bangun lat jadi cuci muka dulu,” ucapnya.

Setelah membersihkan wajahnya, korban lantas meminta uang recehan kepada ayahnya. Namun ayahnya tidak memberikan uang, justru meminta korban agar tidak perlu jualan ikan, tapi kakak perempuannya, Intan tiba-tiba memukul korabn tanpa ada alasan yang jelas.

“Saya minta uang kacil (recehan) di papa mau pigi bajual terus papa bilang ngana (kamu) tarausa (tidak) bajual sudah. Terus disitu langsung kaka perempuan pukul saya,” ceritnya dengan sedih.

Setelah dipukuli kakaknya, korban langsung bergegas pergi ke rumah salah satu teman mamanya, Lia untuk membantunya mencari uang jajan sekolah. Korban pun ke pasar Bastiong menjual ikan milik Lia.

Tidak berlangsung lama, korban di telpon ibunya dan mengancam jika korban balik ke rumah akan dipukuli. Mendengar ancaman ibunya, korban lantas tidak pulang karena takut. Korban memilih menginap di rumah temannya di Kelurahan Ubo-Ubo.

“Mama telpon saya ancam kase tau kalau pulang di rumah pukul kita. Saya langsung takut pulang, terus menginap di teman di Ubo-Ubo. Kesoknya pigi di ci Lia di lingkungan Tanah misi sekaligus tidur di situ,” jelasnya.

Korban bilang, Lia kemudian mengajak korban ke rumah salah satu kerabatnya di Fajawa Dua bernama Gunawan. Namun, saat di Falajawa Dua, ibunya menemukan korban dan diminta balik ke rumah.

Saat sampai di rumahnya di Kelurahan Tabona, ibu korban memerintahkan kaka kandung korban mengambil kayu dan memukul sekujur tubuh korban.

“Mama cari tahu terus dapa saya di Falajawa Dua, langsung bawa di rumah. Habis itu mama suru kaka ambe kayu lata baru kase pukul pe saya,” terangnya.

Korba mengaku dirinya sudah berulangkali mendapatkan kekerasan fisik dari ibu dan kakak kandungnya. Bahkan, ibunya pernah sekali memotong lengan tangannya dan memukul kepalanya menggunakan batu.

“Saya sudah sesering mendapatkan perlakuan begini dari mama dan kakak. Saya pernah dapa potong lengan tangan bagian kiri, bahkan saya p kepala juga mama pukul dengan batu,” keluhnya dengan penuh air mata.

“Saat mama dengn kakak pukul saya itu papa ada. Papa tara marah atau bantu, tapi papa iko pukul juga,” sambungnya, mengakhiri.

Sementara Lia, membenarkan kalau korban sempat melarikan diri ke rumanya untuk meminta bantuan mengamankan diri dari ancaman orang tuanya. “Dia datang di rumah minta bantu suruh kadara dia pe mama, cuma dia pe mama bilang kalau cari sampai dapat pukul pa dia sekaligus lase masuk di sel,” singkatnya. (ano)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.