Sejumlah Sekolah di Halbar Terancam Ditutup

Kadiknas Hlabar, Harun Kasim

TIVATIMUR.COM,HALBAR- Untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pendidikan di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara (Malut), maka Dinas Pendidikan (Diknas) Halbar bakal menutup sejumlah sekolah yang jumlah siswa tidak mencapai 100 orang.

Langkah ini diambil Diknas Halbar guna mengatasi kekurangan guru yang ada di sejumlah sekolah di Halbar. Namun tidak serta merta Diknas Halbar langsung menutup sekolah, tapi melihat jumlah siswa disetiap sekolah.

“Dua sekolah yang terletak dalam satu desa tapi siswanya tidak banyak, maka akan demerger. Ini tentu sekolah satunya harus ditutup,” ungkap Kadiknas Halbar, Harun Kasim.

Untuk memuluskan ikthiar Diknas Halbar ini, maka pihaknya bakal mengundang Kepala UPTD bersama pengawas untuk membicarakan penggabungan sekolah. Diperkirakan rapat dilakukan pada 6 Desember 2021 nanti.

“Jadi saya berikan tugas kepada mereka untuk melihat sekolah mana yang layak dan tidak layak untuk ditutup sehingga nanti bakal digabungkan,” ujarnya.

Dirinya menyebutkan ini bukan hanya untuk Sekolah Dasar (SD) tapi juga SMP. Untuk SMP, lanjutnya, jika jaraknya antara satu kampung dengan kampung yang lain hanya sekitar 2 sampai 3 kilometer, tidak menutup kemungkinan akan ditutup bila siswanya tidak memenuhi standar atau siswanya tidak banyak.

“Nanti saya tugaskan kepada Kepala UPTD bersama pengawas, mereka nanti turun lapangan dan berikan masukan kepada saya, apakah sekolah-sekolah ada yang layak ditutup atau tidak,” jelas mantan Kasi Produksi Media Pembelajaran Balai Tekom Dikbud Maluku Utara ini.

“Kami juga bakal mengumpulkan orang tua murid untuk berdiskusi, supaya bisa diketahui plus minusnya jika ditutup. Kemudian bakal dijelaskan apakah siswa sedikit atau banyak, keuntungan dan kerugiannya dimana sehingga orang tua harus mengerti tentang hal itu,” sambungnya, menjelaskan.

Harun bilang, SMP yang siswanya banyak bakal cepat mendaptkan bantuan, tetapi kalau siswa di bawah 60 orang sulit sekali dapat bantuan dari Kementerian Pendidikan. Ini tentunya merugikan sekolah. Sebab, sekolah dengan siswa yang banyak maupun sedikit biaya operasioanl hampir sama.

“Ini yang menjadi ikthiar Diknas Halbar untuk sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit digabungkan dengan yang jumlah siswa yang banyak. Kami bisa lengkapi dengan fasilitas semisalnya laboratorium komputer, fisika, kimia kemudian gurunya juga lengkap,” urai Harun.

Harun mencontohkan, di Desa Bobanehena ada dua SD saling berhadapan itu nanti bakal digabungkan. Begitu juga Akediri SD Inpres 4 dan 5 itu yang berada dalam satu lokasi, sementara siswanya juga sedikit sehingga bakal digabungkan.

“Untuk mengatasi permasalahan kekurangan guru, khususnya di Kecamatan Lolda dan Loloda Tengah, maka sejumlah langkah yang akan ditawari ke pemerintah, yaitu pengadaan guru kontrak. Berikutnya adalah menggabungkan sekolah yang jumlah siswanya di bawah 60 orang,” akhirnya. (adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Salom, menurut saya, kebijakan untuk menutup sekolah yg kurang murid bukan solusi, seharusnya bapak buat pembenahan terhadap kualitas kepsek dan guru2 kemudian buatlah pemerataan sekolah yg muridnya lebih dari 100 di bagi ke sekolah yg kurang murid, sehingga kalau alasan bantuan pemerintah semua kebagian, mengingat autput dari masyarakat setiap tahun bukan berkurang tetapi sarjana- sarjana semakin bertambah sementara peluang kerja semakin sedikit, jika bapak mengambil kebijakan ini maka bapak akan menciptakan penganggur2 inteletual semakin banyak, seharusnya bapak membagi guru2 yg berkualitas ke sekolah2 yg kurang guru yg berkualitas, SMP yg banyak siswanya di bagi ke yg kurang, SMA yg banyak siswanya di bagi ke yg kurang siswanya supaya ada pemerataan, ciptakan lapangan pekerjaan bukan mengurangi lapangan pekerjaan. Demikian saran saya. Pdt. DR. Daud A. Ngamon, M.Th Tibobo