Nurlaela Syarif Warning Pengusaha Penginapan

Anggota DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif

Tivatimur.com,Ternate- Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Maluku Utara, Nurlaela Syarif mengecam sikap acuh pemilik penginapan yang mengizinkan para tamu anak-anak di bawa umur untuk menginap di penginapan.

Hal ini disampaikan Nurlaela Syarif saat mengunjungi ruang rehabilitasi BNN Maluku Utara, terkait 16 ABG yang diamankan Satpol-PP disalah penginapan di Kota Ternate.

Politisi NasDem ini menyebutkan, 16 ABG yang dinamakan Satpol-PP rata-rata berusia 18 tahun. Ini yang sangat disayangkan, kenapa pihak penginapan seolah-olah membiarkan para anak-anak di bawah umur ini menginap.

“Kenapa pemilik penginapan begitu saja membiarkan tanpa ada upaya melarang tamu di bawah umur untuk menginap atau gunakan fasilitas penginapan sebagai tempat yang meresahkan warga,” ungkap Nela kesal.

Pemilik penginapan, lanjutnya, juga harus punya tanggung jawab moril dalam menjalankan bisnis mereka. Jangan hanya mengejar keuntungan, lalu hal-hal yang mendesar seperti ini dibiarkan.

“Seharusnya pihak penginapan meski mengejar tamu juga harus ada rasa tangung jawab sosial, misalkan meminta KTP atau identitas tamu, jika masih usia remaja atau anak jangan di izinkan buka kamar penginapan. Ii malah dibiarkan begitu saja, pihak penginapan juga harus ditegur karena menjalankan usaha tanpa mengedepankan tangung jawab sosial,” cetus Nela.

Anggota DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif saat mengobrol dengan 5 remaja perempuan di ruang rehabilitasi BNN Malut. 5 remaja perempuan ini diamankan Satpol-Pp saat pesta miras bersama beberapa rekan-rekan pria lainnya

“Jadi selain catatan, juga ada pengawasan penting bagi pemerintah kecamatan dan kelurahan yang ada usaha penginapannya. Agar harus kontrol jangan sampai penginapan dijadikan tempat mesum dan pengunaan pesta narkoba dan miras,” sambung Nela.

Nela bilang, ini harus menjadi perhatian bersama, baik keluarga maupun pemerintah dalam memaksimalkan segala tenga untuk memproteksi generasi kita dari penyalahgunaan narkotika dan zat adektif lainnya.

“Meskipun jenis Lem ini belum diatur dalam aturan perundangan-undangan sebagai jenis zat adektif lainnya, namun trend pengunaan jenis Lem ini sudah marak di kalangan anak usia SD sampai SMP di Kota Ternate,” ucap Nela.

Nela menyebutkan, trend kasus terus naik, mulai dari 20 kasus kini sampai 50 kasus. Tentu ini menjadi catatan bagi kita semua untuk mencegah terjadinya pesta miras dan narkotika dilakukan anak generasi muda. (udi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *