LSI Denny JA; MHB-GAS Menang di Pilwako Ternate

Direktur KCI-LSI Denny JA, Adjie Alfaraby saat memaparkan hasil survei LSI Denny JA

Ternate- Puncak Pemilihan Kepala Daera (Pilkada) Kota Ternate 2020 sisa menghitung hari, dari empat kandidat yang berkontestasi, Pasangan Calon (Paslon) Muhammad Hasan Bay – Mohammad Asghar Saleh (MHB-GASS) memiliki kans besar keluar sebagai pemenang di pesta demokrasi Kota Ternate.

Ini sesuai hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terhadap elektabilitas calon dalam Pilkada di Kota Ternate, Maluku Utara. Survei yang dilakukan pada tanggal 22-28 November 2020 dengan 440 responden ini menempatkan Paslon nomor urut tiga Muhammad Hasan Bay – Mohammad Asghar Saleh (MHB-GASS) berpotensi memenangi pertarungan pilkada walikota dan wakil walikota Ternate.

Saat ini dukungan terhadap MHB-GAS unggul 31,3 persen, disusul paslon nomor urut satu Merlisa Marsaoly-Juhdi Taslim (MAJU) 22,5 persen, lalu Paslon nomor urut tiga M.Tauhid Soleman-Jasri Usman (TULUS) 20,7 persen dan yang berada pada posisi terakhir adalah Paslon nomor urut empat Yamin Tawari-Abdullah Taher (YAMIN-ADA) 13,2 persen. Sedangkan yang belum menentukan sikap 12,3 persen.

“Jika mereka yang belum menentukan pilihan sebesar 12.3 persen dibagi secara proporsional (karena di saat hari H tidak ada lagi yang belum menentukan pilihan), maka elektabilitas MHB-GAS naik menjadi sebesar 35.7 persen, MAJU sebesar 25.7 persen, TULUS sebesar 23.6 persen, dan Yamin-ADA sebesar 15 persen. Selisih antara pasangan MHB- GAS dengan kompetitor terdekat pasangan MAJU sebesar +/-10 persen,” ungkap Direktur KCI-LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dalam keterangan persnya, Jumat (4/12/2020).

Adjie Alfaraby menyebutkan, Survei dikerjakan melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan estimasi margin of error sebesar 4.8 persen. Kisaran dukungan (range), lanjutnya, dukungan para kandidat berdasarkan hitungan plus minus margin of error (MoE) survei sebesar 4.8 persen. Dengan demikian prediksi range dukungan pasangan MHB-GAS adalah sebesar 30.9- 40.5 persen, range dukungan pasangan MAJU sebesar 20.9-30.5 persen, range dukungan pasangan TULUS sebesar 18.8-28.4 persen, dan range dukunngan pasangan Yamin-ADA sebesar 10.2 -19.8 persen.

“Artinya dengan range dukungan tersebut, dengan data survei akhir November 2020, yang paling berpotensi menang adalah pasangan MHB-GAS. Di posisi kedua dan ketiga masih diperebutkan oleh pasangan MAJU dan pasangan TULUS. Artinya pasangan TULUS masih berpotensi menyalip dukungan pasangan MAJU, karena selisih kedua pasangan kandidat tersebut sangat ketat. Dan posisi terakhir adalah pasangan Yamin-ADA,” urainya.

Ada tiga alasan pasangan yang diusung partai Golkar, Gerindra dan Hanura ini unggul dan berpotensi menang di Pilkada Kota Ternate, yakni pertama, MHB-GAS sosok paling disukai. Meskipun popularitas semua calon walikota rata-rata sudah diatas 90 persen, tapi MHB adalah calon walikota yang paling tinggi tingkat kesukaan mencapai 69.8 persen. Semntara untuk calon wakil walikota, Asghar Saleh adalah calon wakil walikota dengan tingkat kesukaan tertinggi mencapai 66.7 persen.

Kedua, lanjutnya, MHB unggul semua aspek personality dibanding calon walikota lainnya. Ada 8 (delapan) aspek personality yang diuji untuk keempat calon walikota. Kedelapan aspek tersebut antara lain menyenangkan, jujur, pintar, mamkpu mengambil keputusan dengan tegas, berwibawa sebagai pemimpin, perhatian kepada rakyat, taat beragama, dermawan dan suka menolong. Persepsi MHB menyenangkan 64.4 persen, jujur 58.3 persen, pintar 74.3 persen, mampu mengambil keputusan tegas 60.8 persen, berwibawa sebagai pemimpin 66.1 persen, perhatian kepada rakyat 59.8 persen, taat beragama 60 persen, dermawan dan suka menolong 60 persen.

Lanjut Adjie, ketiga, MHB-GAS dipersepsikan didukung oleh petahana. Dalam pilkada yang tidak diikuti lagi oleh petahana dua periode, dukungan petahana sangat berpengaruh.

Meskipun demikian, ada dua faktor yang bisa mempengaruhi dukungan menjelang hari H. Pertama, adanya mobilisasi maha dahsyat/skala besar oleh kandidat tertentu di akhir menjelang pemilihan. Namun jika mobilisasi antar kandidat terjadi secara normal, atau tidak ada yang sangat menonjol maka peta dukungan tidak akan berubah signifikan.

“Partisipasi dan golput di hari H. Survei tak mampu secara akurat mengukur tingkat golput, jika golput pemilih kandidat proporsional maka dukungan tak banyak berubah. Jika golput tidak proporsional tentunya akan mempengaruhi dukungan,” akhirnya. (ir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *