Kena Gas Air Mata Polisi, Nyawa Bayi 5 Bulan di Ternate Terancam Melayang

Alfatah, bayi berusia 5 bulan yang terkena gas air mata polisi

TIVATIMUR.COM,TERNATE- Sikap arogan aparat kepolisian di Polda Maluku Utara (Malut) yang membubarkan paksa massa aksi menggunakan gas air mata, di jalan utama arah bandara Babullah, tepatnya depan kampus FKIP Unkhair Ternate, memakan korban.

Kali ini korbannya bukan mahasiswa atau massa aksi, melainkan seorang bayi berusia lima bulan terpaksa melawan sakit karena ulah aparat kepolisian. Bahkan, nyawa bayi tidak berdosa ini terancam melayang.

Bacaan Lainnya

Alfatah,  bayi berusia 5 bulan ini, harus berjuang melawan dampak dari pada  gas air mata yang ditembakkan pihak kepolisian pada saat membubarkan massa aksi.

Bayi tidak berdosa ini terancam hidupnya. Beruntung, Mutia Ahmad (26) ibu dari bayi ini segera melakukan pertolongan pertama kepada korban sehingga bisa diatasi.

Melihat kondisi Alfatah yang menangis karena kena gas air mata, ayah Alfatah, Ardian sontak marah dan keluar melakukan protes terhadap kepolisian. Mirisnya, ayah Alfatah justru ditahan.

Mutia usai bertemu dengan pihak kepolisian untuk mengeluarkan suaminya, kepada wartawan mengatakan, ia  dan suaminya tinggal kompleks  gapura keluarahan Akehuda (Gerbang menuju arah kampus FKIP).

Ardian saat menggendong anaknya yang terkena gas air mata

Pada saat anaknya menghirup gas air mata, ia dan suaminya tidak tahu mau berbuat apa. Dirinya kesal dengan tindak kepolisian yang hampir merenggut nyawa anaknya ini.

“Dia dalam rumah. Sampe-sampe torang kase sambunyi dia (Alfatah) di bawah kolong meja tapi sama saja, anak sampe tara bisa banafas. Untung bae saya goyang kalau tarada anak so tarada. Akhirnya torang bawa lari di belakang ulang,” ucap Mutia dengan nada sedih

Tak hanya itu, Mutia juga menyayangkan sikap kepolisian yang enggan bertanggung. Bahkan meminta keduanya agar tidak meribvutkan insiden yang hamper megenggut nyawan anak mereka.

“Saya tidak tahu kondisinya, sekarang dorang bawa lari ke rumah sakit. Dorang bilang badiam-badiam tarausa baribut-baribut kalau selesai dari sini. Berarti dorang tarada rasa tanggungjawab sama sekali. Asal la janji kase pengobatan atau apa ka,  ini tarada. Dorang cuman suru saya badiam jangan berkoar-koar,” kesalnya. (ano)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.